Jum’at malam, 27 Maret 2026, Majelis Tawashshulan rutin kembali digelar di kediaman Kamituwa Damar Kedhaton, Wak Syuaib, di Desa Iker-Iker Geger, Cerme, Gresik. Suasananya sederhana, hangat, dan menghadirkan kedekatan yang sulit dicari padanannya di tempat lain.
Sebagaimana biasanya dalam forum-forum sinau bareng Maiyahan, majelis tidak berhenti ketika doa penutup dilantunkan. Justru selepas itu, ada ruang lain yang terbuka lebar: ruang obrolan yang lebih mencair, tempat bertukar pikiran, sekaligus ruang saling mengingatkan dalam balutan cinta al-mutahabbina fillah.
Sejumlah keresahan yang dialami dulur-dulur Damar Kedhaton pelan-pelan mengemuka dalam forum. Sebenarnya bukan sesuatu yang baru, tetapi yang berlangsung pada malam itu terasa lebih jujur.
Pembahasan mengarah pada dinamika dalam berlangsungnya diskusi Majelis Ilmu Telulikuran. Sebagian dulur yang hadir mengungkapkan uneg-unegnya sebagai piweling bersama. Ada rasa eman-eman ketika diskusi pada rutinan Majelis Ilmu Telulikuran hanya berhenti pada “saur manuk.”

Selama ini, diskusi memang berjalan hidup. Antusiasme terlihat, saling menimpali pendapat juga menjadi hal yang lumrah terjadi. Namun di balik itu semua, muncul kesadaran bersama bahwa keramaian dalam diskusi belum tentu berbanding lurus dengan kedalaman arah.
Dalam beberapa momen, arah diskusi sempat bergeser menjadi perdebatan yang kehilangan pijakan. Diskusi yang seharusnya menjadi ruang sehat untuk mencari titik terang bersama yang argumentatif justru cenderung mempertahankan pendapat masing-masing.
Pada konteks ini, Cak Fauzi kemudian memberi penegasan yang terasa relevan untuk dijadikan sebagai bahan refleksi bersama. Ia mencoba merangkum sekaligus memetakan keresahan yang dialami oleh dulur-dulur Damar Kedhaton agar lebih utuh dan terarah.
Ia menjelaskan bahwa perbedaan pendapat dalam perdebatan bukan menjadi sebuah masalah, bahkan bisa menjadi energi baik untuk dikendurikan sebagai cipratan ilmu dan hikmah, dengan catatan selama yang dikemukakan dalam forum adalah argumen, bukan sentimen.
Sebab, konstruksi argumen menuntut adanya ruang kerja penalaran yang runtut dan logis. Ia memerlukan data yang dapat dipertanggungjawabkan, serta fondasi alur berpikir dengan konsep yang jelas. Sebaliknya, sentimen kerap muncul dari perasaan pribadi—suka atau tidak suka, tersinggung, atau emosi reaktif yang tidak selalu disadari kehadirannya.

Cak Fauzi mencuplik apa yang pernah disampaikan Rocky Gerung, yang kemudian diadaptasi olehnya: “Debat kuwi apik-apik ae, sepanjang memakai argumen, bukan sentimen.”
“Kita perlu terus mentradisikan penggunaan argumen ketika mengemukakan pendapat atau opini. Argumen itu menuntut penalaran yang valid, didukung data yang shohih, konsep yang memadai,” lanjutnya.
Tanpa pemahaman nalar logis, diskusi kehilangan arah. Tanpa rasa, diskusi bisa kehilangan kedalaman dan keluasannya. Dan, tanpa laku, semuanya berisiko berhenti sebagai wacana.
Disadari atau tidak, hampir seluruh dulur DK merasakan gelombang frekuensi yang tidak selaras ketika momen perdebatan sentimen itu terjadi dalam sesi forum atau elaborasi tema berlangsung. Ketika diskusi dirasa bergeser ke wilayah sentimen, suasana ikut berubah. Tidak selalu tampak secara kasat mata, tetapi begitu kuat terasa dalam gelombang frekuensi batin yang tidak lagi selaras.

Hal berbeda disampaikan oleh Cak Arif. Ia menambahkan dari sudut pandang yang lain. Menurutnya, beberapa kali diskusi terkadang terlalu jauh bergerak di wilayah analogi dan istilah yang “melangit.” Secara retorika memang menarik dan tampak keren layaknya kaum intelektual, tetapi tentu tidak mudah diaplikasikan ke kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, cerita pengalaman masing-masing dulur Damar Kedhaton yang dibagikan akan memperkaya sudut pandang pola pikir ketika menghadapi sebuah problem kehidupan. Dalam forum Maiyahan, semua dikemas sebagai ruang sinau bareng. Tak ada yang paling pintar ataupun sebaliknya. Duduk sama rata, berdiri sama tinggi. Satu forum seribu podium, satu suara, seribu irama.
Satu pengingat bersama kemudian mengemuka dari Wak Syuaib. Melanjutkan dhawuh Abah Hamim Ahmad—sahabat karib Mbah Nun saat di Berlin, Jerman (baca selengkapnya di CakNun.com), Kamituwa menekankan supaya setiap Majelis Ilmu Telulikuran memiliki “cantolan” berupa rujukan dari ayat Al-Qur’an atau hadits.
Cantolan tersebut sekaligus ditempatkan sebagai piweling bersama untuk terus mendekatkan diri pada Al-Qur’an. Tidak hanya dengan membaca teks, tetapi juga dengan memaknai dan mentadabburinya.
Selain itu, Wak Syuaib juga mengingatkan pentingnya menghadirkan sholawat di sela-sela diskusi sebagai upaya menjaga keselarasan antara pikiran dan hati, terutama ketika diskusi dirasa bergeser masuk ke wilayah sentimental.

Sementara itu, Mas Akbar kemudian menyorot aspek yang lebih teknis, yakni pemilihan diksi dalam tema. Istilah yang “melangit” sering kali membuat diskusi sulit menyentuh realitas dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, menurutnya, diperlukan upaya untuk menarik tema lebih dekat ke pengalaman sehari-hari.
“Ikhlas”, misalnya, akan lebih mudah dipahami ketika dihadirkan dalam konteks yang konkret, seperti “ikhlas kepada pasangan.” Dengan cara ini, kata Mas Akbar, pembahasan tema tidak berhenti pada konsep “ikhlas”, tetapi juga membuka kemungkinan untuk dijalankan dalam kehidupan. Terlebih dimaknai dan menjadi bahan refleksi diri.
Terakhir, dari Cak Irul. Ia menyodorkan nilai-nilai dasar khasanah Jawa yang sering kali justru terlewat kita sadari: sabar, empan papan, serta menjaga mulut agar tidak melukai hati dulur-dulur yang hadir.
Sebab, dalam beberapa kesempatan, melencengnya konteks tema diskusi bukan semata karena kurangnya pemahaman maupun wawasan pengetahuan, tetapi juga bisa jadi karena kurang terjaganya rasa. Sentimen yang tidak disadari dapat berkembang menjadi sesuatu yang dapat disalahpahami oleh khalayak publik.
Sinau bareng malam itu, selepas Majelis Tawashshulan rutin Damar Kedhaton Gresik, menjadi sebentuk ikhtiar bersama untuk merawat cara berdiskusi itu sendiri. Harapannya agar diskusi tetap hidup, tetap hangat, dan utamanya tidak kehilangan arah.
Cerme, 30 Maret 2026








