Sabtu, 14 Maret 2026, ba’da tarawih. Suara tadarus Al-Qur’an bersahutan dari beberapa masjid dan mushola. Pada saat yang sama, para sedulur Maiyah Pasuruan telah berkumpul di Omah Suket, tempat maiyahan kali ini digelar. Tadarrus Zaman menjadi tema Sinau Bareng malam itu.
Suasananya terasa santai. Diskusi ditemani suara gemericik air dari kolam koi yang berada di dalam rumah. Obrolan dimulai dari rerasan ringan tentang berbagai kahanan yang sedang terjadi saat ini, dari program MBG hingga situasi dunia yang berada di ambang ketegangan global.
Percakapan mengalir santai, sesekali diselingi canda tawa dan satire. Guyonan itu banyak menyinggung karakteristik manusia Indonesia pada umumnya: bagaimana konsep-konsep yang awalnya tampak bagus sering kali berakhir absurd karena pengelolaan yang cengengesan serta kecenderungan untuk mencari keuntungan sendiri.
Memasuki pembahasan tentang zaman, diskusi bergulir pada kesadaran bahwa perjalanan peradaban manusia kerap kali lebih banyak digerakkan oleh hasrat-hasrat pemenuhan nafsu yang bersifat “hewani.” Dalam dinamika peradaban, setidaknya terdapat dua peran yang saling berkaitan: pengendali dan pengikut.
Dengan bekal pengetahuan tentang cara kerja otak, psikologi manusia, serta berbagai mekanisme manipulasi persepsi, para elit mampu mengarahkan arus peradaban sesuai agenda dan kepentingannya. Sementara sebagian besar manusia lainnya berada pada posisi sebagai pengikut dari kendali tersebut.
Dari kesadaran itulah muncul satu rumusan menarik dalam diskusi malam itu: bahwa kita perlu menjadi semacam “Glitch in the Matrix”
Glitch dalam matriks adalah anomali. Simpangan kecil dalam sebuah sistem yang berjalan. Dalam banyak hal, Maiyah bisa dipandang sebagai salah satu contohnya. Di tengah arus peradaban yang cenderung menuhankan materi dan memuaskan nafsu, Maiyah memilih jalannya sendiri. Ia berusaha membangun kesadaran dan sistem nilai yang tidak sekadar ikut hanyut dalam arus besar zaman.
Obrolan kemudian memasuki wilayah strategi: bagaimana kemampuan bertahan (survival) menghadapi kondisi zaman yang penuh ketidakpastian. Diskusi menyentuh berbagai kemungkinan, mulai dari upaya membangun ketahanan pangan hingga pembelajaran dari negara-negara yang mampu bertahan dalam tekanan global, seperti bagaimana Iran tetap berdaulat di tengah embargo yang berlangsung bertahun-tahun.
Pada wilayah yang lebih reflektif, pembahasan beralih pada hakikat waktu. Apakah sebenarnya waktu itu?
Dalam diskusi disebutkan bahwa dari sudut pandang ilmu pengetahuan, waktu memiliki banyak cara untuk dipahami. Fisika klasik ala Newton memandang waktu sebagai sesuatu yang tetap dan mengalir lurus. Namun dalam relativitas, waktu ternyata bisa melengkung. Kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya mampu memperlambat bahkan “membengkokkan” pengalaman waktu itu sendiri.
Cahaya pun menjadi unsur penting dalam pemahaman tentang waktu. Ia memiliki dua sifat sekaligus, gelombang dan partikel, yang dalam fisika kuantum dikenal sebagai superposisi. Ketika diamati, ia berperilaku seperti partikel. Ketika tidak diamati, ia pun tampil sebagai gelombang.
Dari titik ini, muncul refleksi bahwa kesadaran manusia sebenarnya merupakan rekonstruksi dari titik-titik pengalaman waktu yang tersusun di dalam otak. Kehidupan berjalan dari keteraturan menuju ketidakteraturan, menuju entropi. Manusia mengenali waktu sebagai sesuatu yang tidak bisa kembali (irreversible) karena adanya entropi. Yang bisa dilakukan manusia adalah mengkhalifahi kehidupan sehingga kadar entropi tidak naik drastis. Atau memaknai kehidupan sehingga entropi tidak dihabiskan dengan kesia-siaan
Bahkan dalam keseharian manusia, konsep waktu juga merupakan hasil kesepakatan. Satuan detik (second) misalnya, ditentukan dari getaran atom sesium. Artinya, apa yang kita sebut sebagai “waktu” sebenarnya adalah cara manusia membaca dan menata perubahan yang terjadi di alam.
Di masa lalu, manusia lebih hidup mengikuti siklus alam: matahari, musim, dan pergerakan langit. Namun dalam peradaban modern, manusia semakin menjauh dari ritme tersebut. Dalam diskusi juga muncul pemahaman bahwa sebelum sebuah pilihan diambil, segala sesuatu sebenarnya masih berada dalam bentuk potensi. Seolah-olah semesta menyimpan berbagai kemungkinan yang belum runtuh menjadi kenyataan.
Mas Jufri juga menambahkan analogi tentang resonansi: dua hal akan saling menguatkan ketika memiliki frekuensi yang sama. Begitu pula manusia dengan zaman. Ketika frekuensi kesadarannya selaras dengan realitas yang sedang terjadi, ia akan mampu membaca arah pergerakan keadaan.
Di sisi lain, waktu juga diibaratkan sebagai pedang. Ia bisa menjadi alat yang menajamkan kehidupan, tetapi juga bisa melukai jika manusia tidak mampu menggunakannya dengan bijak. Karena itulah, ketika kita belajar membaca zaman, sesungguhnya kita sedang belajar menentukan sikap: apakah kita akan sekadar ikut arus, atau mampu menempatkan diri dengan kesadaran yang lebih jernih.
Kembali pada gagasan glitch dalam matriks, anomali justru bisa menjadi ruang kemerdekaan. Islam, dalam banyak hal, juga dapat dipandang sebagai semacam glitch terhadap sistem dunia yang menuhankan materi. Demikian pula Maiyah, yang berusaha membangun kesadaran, nilai, dan cara pandang yang tidak sepenuhnya tunduk pada arus besar zaman.
Diskusi juga menyinggung bagaimana percepatan zaman tidak selalu diikuti oleh kesiapan manusia. Ketika perubahan berlangsung sangat cepat sementara manusia tidak mampu menyesuaikan diri, maka ketidakteraturan atau entropi dalam kehidupan sosial akan meningkat dengan cepat.
Mbak Marhamah menambahkan, salah satu tantangan terbesar manusia saat ini adalah banyaknya distraksi. Perhatian manusia terus-menerus ditarik oleh berbagai hal yang membuatnya semakin jauh dari kesadaran yang jernih. Mas Ari menambahkan, dalam konteks hubungan manusia dengan alam, terdapat bahaya antroposentrisme. Antroposentrisme adalah cara pandang yang menempatkan manusia sebagai pusat segalanya. Ketika manusia merasa seolah-olah menjadi penguasa mutlak alam, kerusakan bumi pun semakin cepat terjadi. Seolah-olah manusia sedang “cosplay menjadi Tuhan,” bahkan sampai mengontrol manusia lain demi kepentingannya sendiri.
Pertanyaan pun mengemuka: apakah perubahan cuaca dan kerusakan alam yang terjadi hari ini turut mengganggu hubungan manusia dengan Tuhan?
Pada akhirnya, diskusi kembali kepada inti ajaran spiritual: bahwa manusia tetap diminta untuk berbuat baik, bahkan ketika masa depan tampak tidak pasti. Sebagaimana Sabda Kanjeng Nabi yang sering dikutip: sekalipun esok hari dunia kiamat, manusia tetap diminta menanam biji kurma. Artinya, kebahagiaan tidak hanya terletak pada tercapainya tujuan, tetapi juga pada kesungguhan dalam melakukan kebaikan itu sendiri. Meski pembahasannya sempat menyentuh teori-teori yang cukup ndakik-ndakik, suasana tetap cair. Obrolan mengalir ringan, penuh canda dan tawa. Itulah yang membuat waktu terasa berjalan tanpa terasa.
Lewat tengah malam, Sinau Bareng dipungkasi dengan doa yang dipimpin oleh Mas Jufri. Setelah itu, para sedulur juga melakukan koordinasi pendistribusian santunan bagi anak-anak yatim, amanah dari para sedulur Maiyah yang istiqamah menyisihkan sebagian rezekinya. Semoga segala yang telah dilakukan malam itu menjadi bekal dalam menghadapi tantangan zaman. Tidak terlarut olehnya, Berbekal kuda-kuda berpikir dan tawakkal.
Bismillah.
Terus berjalan.









