Malam minggu pada pekan kedua setiap bulan, kami kembali melingkar dalam Maiyahan. Malam ini cerah, berbeda dengan beberapa hari sebelumnya yang sering turun hujan. Kali ini bertempat di rumah Mas Ari, pengampu Sanggar Perdikan. Sanggar ini bukan sekadar ruang belajar, tetapi juga ikhtiar menjaga kewarasan, dengan mengasuh dan mengarahkan anak-anak agar tumbuh sesuai fitrahnya.
Pembahasan Majelis Ilmu Simbah malam itu mengarah pada sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, namun sering luput dari perhatian: pikiran manusia itu sendiri.
Majelis dibuka dengan tawassul dan tawashshulan singkat, sebagai upaya menyambungkan hati pada frekuensi ruhani Maiyah. Setelah itu, forum dibuka oleh Mas Rizal dengan “mbeber kloso”, menghamparkan beberapa pokok pemikiran sebagai landasan diskusi.
Raksa berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti pertahanan. Rakṣa Nalar dimaknai sebagai ikhtiar menjaga kejernihan kesadaran, agar manusia tetap berdaulat atas dirinya di tengah arus zaman yang semakin kompleks. Jika dahulu manusia bertahan hidup dari ancaman fisik, hari ini ancaman tersebut justru banyak hadir di dalam pikiran, mempengaruhi cara merasa, berpikir, hingga mengambil keputusan.
Hidup hari ini dipenuhi oleh notifikasi. Setiap notifikasi pada dasarnya adalah “alarm” yang dipasang oleh pihak lain untuk merebut perhatian kita. Di baliknya, ada algoritma dan aturan tertentu yang bekerja menyesuaikan dengan kebiasaan pengguna. Tanpa disadari, apa yang muncul di hadapan kita bukanlah sesuatu yang netral, melainkan hasil dari sistem yang terus belajar tentang diri kita. Banyak orang tidak menyadari bahwa perhatian mereka sedang diarahkan secara halus, sedikit demi sedikit.
Mas Ari melanjutkan membahas fenomena menarik, yaitu nocebo: kondisi ketika pikiran dapat memunculkan rasa sakit, meskipun secara medis tidak ditemukan gangguan. Dari sini terlihat bahwa apa yang terjadi di dalam pikiran dapat berdampak nyata pada tubuh. Artinya, yang perlu dijaga bukan hanya fisik, tetapi juga cara berpikir.
Dalam kehidupan modern, perhatian manusia menjadi sesuatu yang diperebutkan. Banyak praktik, terutama dalam dunia pemasaran, memanfaatkan bias psikologis untuk menarik dan mengarahkan atensi. Jika dahulu penjajahan dilakukan secara fisik, hari ini ia hadir dalam bentuk yang lebih halus: mempengaruhi kesadaran dan persepsi manusia.
Akibatnya, hidup sering kali bergerak di sekitar pemenuhan keinginan. Dorongan untuk merasa nyaman, aman, atau diakui perlahan menjadi pusat. Nafsu mengambil peran dominan, sering kali tanpa disadari mengarahkan pilihan-pilihan hidup. Mas Upik bertanya tentang beberapa macam nafsu manusia, dan beberapa istilah yang saling berkelindan seperti pikiran, akal, nalar, rasa, jiwa, ruh, dan bermacam lainnya. Ada beberapa pendekatan dan perspektif dan memang agak susah menjelaskan masing-masing secara presisi. Kata-kata manusia terbatas. Dan dengan segala keterbatasan, manusia hendaknya tetap istiqomah berbuat baik. Pada alquran, kita bisa berlatih memiliki nafsu muthmainnah. Salah satu kuncinya adalah rodiyah mardiyyah. Kita ridho saja dengan ketentuan Allah, insyallah kita akan punya peluang mendapatkan ridho darinya.
Di sisi lain, perkembangan teknologi sebenarnya memberikan peluang besar. Ia mampu mengamplifikasi kemampuan kognitif manusia, dan seharusnya dapat digunakan untuk mendorong peradaban ke arah yang lebih baik. Dalam diskusi, sempat disinggung pemikiran Abraham Maslow tentang transendensi, bahwa manusia tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi memiliki potensi untuk melampaui dirinya sendiri.
Namun dalam praktiknya, sering terjadi kekeliruan mendasar: menyamakan kesenangan dengan kebahagiaan.
Kesenangan bersifat inderawi, bergantung pada stimulus, dan cenderung sementara. Ia mudah datang, tetapi juga cepat hilang, bahkan bisa menimbulkan ketergantungan. Sementara kebahagiaan berada pada ranah yang berbeda, ia lebih dalam, dan sangat berkaitan dengan pemaknaan.
Pemaknaan ini bersifat dinamis. Satu pengalaman yang sama dapat menghasilkan makna yang berbeda, tergantung pada kesiapan batin seseorang. Di titik ini muncul pertanyaan penting: dari setiap pengalaman yang dijalani, apa yang benar-benar tersisa? Apakah hanya kesenangan sesaat, atau ada nilai yang bertahan lebih lama?
Bahkan ketika suatu keinginan tercapai, hasilnya tidak selalu kebahagiaan. Tanpa pemaknaan, ia hanya berhenti sebagai pencapaian yang selesai pada saat itu juga. Sebaliknya, dengan pemaknaan, pengalaman tersebut dapat menjadi sesuatu yang terus hidup dan memberi kekuatan.
Mas Arif menyampaikan pendapat. Kesenangan bersifat momentum. Kebahagiaan memiliki daya tahan yang lebih panjang. Dalam kehidupan keluarga, misalnya, kebahagiaan tidak berarti ketiadaan masalah. Justru di dalam dinamika, perbedaan, kelelahan, bahkan konflik, terdapat sesuatu yang membuat hubungan tetap bertahan. Kebahagiaan hadir bukan semata sebagai kondisi, tetapi sebagai sesuatu yang hidup di dalam hati.
Dalam perjalanan hidup, manusia seolah dihadapkan pada dua jenis permainan. Yang pertama adalah permainan menang dan kalah. Yang kedua adalah permainan bertahan, bagaimana tetap utuh dalam jangka panjang. Rakṣa Nalar mengajak untuk lebih menyadari pilihan ini.
Pada akhirnya, kebahagiaan bukan sesuatu yang terus-menerus dicari di luar, melainkan ditemukan melalui kejernihan dalam memaknai. Namun kejernihan tersebut tidak muncul begitu saja. Ia memerlukan kondisi yang mendukung—baik secara fisik maupun mental.
Peradaban hari ini dipenuhi oleh stimulus yang sangat banyak. Tanpa disadari, hal ini justru dapat melemahkan kemampuan manusia untuk berpikir jernih. Masalahnya bukan karena kekurangan informasi, melainkan karena kesulitan dalam mengolahnya.
Di titik inilah Rakṣa Nalar menjadi relevan. Bukan sekadar agar manusia tetap hidup, tetapi agar tetap sadar, jernih, dan tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.
Bismillah. Terus berjalan.








