Sejuk menyelimuti malam. Hening yang seolah memuat banyak makna, penuh oleh kemungkinan-kemungkinan yang belum terucap. Tepat pada malam Minggu, 28 Maret 2026, Rutinan Sinau Bareng Majlis Gugurgunung kembali digelar. Bertempat di Griya Surya Pringsari No.49, Pringapus, Kabupaten Semarang—ruang sederhana yang malam itu menjadi tempat berlabuhnya rasa dan makna.
Mengangkat Tema “Sasi Tembang Wulan Tembung” dengan tagline: “Fitrah Makna, Tugu Kata.” Sebuah tema yang berkaitan dengan bulan syawal yang banyak bertaburan kata-kata dan doa yang indah. Maka, malam itu adalah bagian dari pengkhidmatan bulan kembali ke fitrah dengan jembatan menelusur fenomena bahasa. Bagaimana bahasa itu bermula dan untuk apa bahasa itu diadakan. Penelusuran ini tidak sekadar untuk dipahami, tetapi untuk didekati perlahan dirasakan dan mungkin, diingat kembali.

Sejarah Khalifatullah dan Tahap Bahasa
Sinau bareng malam ini seolah mengajak setiap yang hadir untuk mundur sejenak—bukan ke masa lalu, tetapi ke dalam diri namun dihantarkan dengan penjabaran tahapan penciptaan Nabi Adam AS dari fase terlembut hingga paling kasap, dari yang paling murni hingga yang paling wujud. Ada satu titik dalam keberadaan manusia, di mana memahami tidak membutuhkan kata. Tidak ada tafsir, tidak ada penjelasan. Hanya ada kehadiran yang utuh dan pemahaman yang langsung. Namun perjalanan manusia tidak berhenti di kejernihan itu.
Lapisan demi lapisan mulai menyelimuti: akal, akhlak, adab… hingga pikir dan nafsu. Bukan sebagai penghalang semata, tetapi sebagai medan ujian—tempat manusia belajar membedakan, merasakan, dan memilih arah. Di situlah bahasa mulai berubah. Dari yang langsung menjadi berlapis. Dari yang jernih menjadi penuh gema. Syawal hadir sebagai pengingat: bahwa kejernihan itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu untuk disadari kembali. Maka sinau bareng malam itu bukan untuk mencari jawaban, melainkan untuk membuka kemungkinan—bahwa mungkin, kita hanya perlu belajar mendengar kembali.
Tujuh Perangan
Diskusi kemudian menelusuri tujuh lapisan dalam diri manusia—sebuah perjalanan dari yang paling jernih hingga yang paling tampak.
Manusia sejatinya adalah makhluk yang diciptakan dengan bahasa sebelum kata-kata. Bahasa itu bukan bunyi—melainkan respon kesadaran terhadap kehendak Ilahi. Respon ini dimulai yang paling peka dan bening. Lalu selapis demi selapis menuju ke respon yang paling lamban. Maka perespon yang paling peka ini dititahkan sebagai penasihat utama untuk lapisan-lapisan berikutnya. Semakin bertambah unsur wujud, semakin ada rentang jarak. Namun Allah mengaruniakan pendengaran agar jarak tak mengurangi kedekatan.
Pertama, konsep “Bahasa Rahmah”. Ini menarik karena tidak memakai bahasa sebagai alat komunikasi, tapi sebagai kehadiran makna itu sendiri. Manusia di fase ini bukan memahami lewat logika, tapi lewat penyatuan—makna langsung “hinggap” ke kesadaran tanpa proses. Ini kayak kondisi pra-dualitas: belum ada subjek-objek, belum ada jarak antara yang memahami dan yang dipahami.
Kedua, “Bahasa Rahiim” kelanjutan yang rapi dan konsisten dari fondasi sebelumnya, tapi benar-benar “menumbuhkan” lapisan baru dari yang sudah ada. Di sini berkembang relasi bertingkat berkesinambungan: Iman → Akal.
Jadi akal di sini bukan sumber kebenaran, tapi penerjemah dari kesaksian iman. Dan “Bahasa Rahiim” kalau sebelumnya “Rahmah” itu murni tanpa medium, sekarang mulai ada “kelembutan yang sudah bertirai”. Artinya: sudah ada jarak, tapi jaraknya masih penuh kasih, belum terdistorsi.

Berikut gambaran lengkap dan ringkasan bahasan malam itu.
Dalam dirimu, ada tujuh perangan—tujuh lapis penerjemah wahyu kehidupan.
1. IMAN — Bahasa Rohmah (Tanpa Jarak). Ini adalah fase pra-kata. Belum ada tafsir, belum ada logika—hanya langsung paham. Di sini berlaku hukum: “Aku berkehendak, maka engkau mengerti.” Ini sejalan dengan isyarat Al-Qur’an: bahwa manusia diajari asma-a kullaha (nama-nama, makna terdalam realitas). Dalam adzan: Allahu Akbar merupakan penegasan asal. Bahasa: Rahmah. Udzunun: Allahu Akbar merupakan resonansi murni. Talbis: belum mampu menembus Ini. Fatwa Iman menjadi penasehat akal.
2. AKAL — Bahasa Rohim (Mulai Terjemah). Akal mulai bekerja, tapi masih tunduk penuh pada Iman. Ia seperti bayi yang menerima dunia tanpa curiga. Di sini manusia mulai bersaksi. Dalam adzan: Asyhadu an la ilaha illallah. Bahasa: Rahiim. Udzunun: mengafirmasi kesaksian. Talbis mulai muncul yaitu memfitnah (membelokkan makna). Kurikulum: Siddiq dan Tabligh. Artinya: benar dalam memahami, benar dalam menyampaikan. Fatwa Akal menjadi penasihat Akhlak.
3. AKHLAK — Bahasa Rohman (Peneguhan Cahaya). Akhlak adalah manifestasi dari yang sudah dipahami. Bukan lagi sekadar tahu, tapi menjadi. Di sini manusia mulai menyadari keterhubungannya dengan Nur Muhammad—sebuah konsep penting dalam Tasawuf. Dalam adzan: Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Bahasa: Rahman. Udzunun: menghidupkan keteladanan. Talbis: memusuhi (menolak kebenaran yang sudah jelas). Kurikulum: Amanah dan Fathonah. Fatwa Akhlak menjadi penasihat Adab.
4. ADAB — Bahasa Batin (Ambang Ujian). Di sinilah game dimulai. Adab bukan hanya sopan—ia adalah kemampuan menempatkan diri secara tepat dalam realitas. Mulai ada: Relasi kompleks Interaksi beragam makhluk. Aktivasi kesadaran halus (kamu menyebut pineal—simbol pusat persepsi batin). Dalam adzan: Hayya ‘alash sholah. Bahasa: Irham (Bahasa bermuatan perintah menebarkan Rahmat). Udzunun: La haula wala quwwata illa billah. Talbis: masuk lewat waswasu, bisikan yang tersembunyi. Menunggangi jalur bahasa Irham. Mulai berlaku hukum: Sirotunnubuwwah vs Sirotuttalbis. Dan pertanyaan kunci: Telingamu (udzunun waiyah) lebih setia ke panggilan mana? Fatwa Adab dari nasihat akhlak menjadi penasihat kepada Pikir. ‘Fatwa’ Adab dari bisikan waswasu menjadi pengeruh pikiran.
5. PIKIR — Bahasa Tanya (Friksi Kesadaran). Pikir adalah ruang antara yakin dan ragu. Mulai mengakomodir suara yang tidak hakiki, termasuk suara dirinya yang lebih rendah. Di sini manusia mulai: bertanya membandingkan bahkan membantah. Bahasa: Jalur Ilham. Adzan: Hayya ‘alal falah. Udzunun: tetap kembali ke la haula wala quwwata. Talbis: masuk lewat pujian, Ini halus sekali, sebab pujian bisa membuat manusia lupa arah.
6. NAFSU — Bahasa Penasaran (Tarikan Dunia). Di sini kisah Nabi Adam menjadi cermin. Peristiwa khuldi bukan sekadar pelanggaran, tapi: simbol dari rasa ingin tahu yang tidak dijaga oleh adab. Bahasa: Jalur Bathin. Adzan: Allahu Akbar. Udzunun: mengingat kembali kebesaran Allah. Talbis: masuk lewat sanjungan. Bedanya: Pujian (pikir) → mengganggu arah Sanjungan (nafsu) → mengikat hati
7. JASAD — Bahasa Residu (Jejak Perwujudan). Jasad adalah hasil akhir dari seluruh proses batin. Ia membawa residu keputusan-keputusan sebelumnya. Bahasa: Jalur Amtsal, Perumpamaan, Hamparan Ciptaan. Adzan: Laa ilaha illallah. Udzunun: Penegasan Tauhid. Talbis: pemujaan (mengultuskan selain Allah). Ini titik paling rawan: ketika simbol dianggap sumber.
Di tengah semua itu, ada satu kunci: Udzunun Wa’iyyah — bejana dengar dalam diri manusia. Ia yang menentukan: apakah kita lebih mendengar panggilan fitrah, atau justru terjebak dalam agresi gema talbis. Ketika Udzunun Wa’iyyah selaras dengan jalur sirothunnubuwwah, Insya Allah manusia berpotensi kembali pada posisi terbaiknya: ahsanu taqwim.

Diskusi mengalir dengan begitu hangat dan khidmat meskipun hanya dihadiri beberapa orang saja. Dulur-dulur yang hadir mencoba mengaitkan tujuh lapisan ini dengan pengalaman pribadi, dimana kadang kita merasa “tahu”, tapi tidak benar-benar “mendengar”. Bahwa mungkin yang perlu dijaga bukan hanya apa yang dipikirkan, tetapi bagaimana cara mendengar. Karena dari situlah, arah langkah seringkali ditentukan.
Bahwa di balik riuhnya kata-kata, masih ada bahasa yang lebih jernih, yang tidak selalu terdengar, tetapi selalu ada. Dan mungkin, perjalanan ini bukan tentang mencari yang baru, melainkan mengingat kembali suatu hal yang sejatinya kita sudah diberitahu.
Sinau bareng menuju puncaknya di pukul 01.30 WIB. Suasana yang terasa lebih hening dan lebih dalam. Do’a dipanjatkan sebagai ucapan syukur atas terselenggaranya perjumpaan lahir dan batin, bergandengan bersama mengingat dan mendengar tentang apa yang sejatinya patut untuk didengar dan diingat. (Redaksi Majlis Gugur Gunung)








