Malam di Kenduri Cinta Jumat lalu bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah momen di mana suasana terasa lebih hangat dan hati terasa lebih lapang. Kehadiran Bu Via membawa getaran ketulusan, menyampaikan pesan yang menyentuh akar paling dasar dari perjalanan kita bersama di Maiyah: Manfaat dan Kedaulatan.
Tanpa ada informasi sebelumnya, Bu Via hadir di Kenduri Cinta edisi April 2026. Forum yang biasanya dilaksanakan di Plaza Teater Besar Taman Ismail Marzuki, sedikit bergeser ke halaman Masjid Amir Hamzah. Bu Via hadir bersama Jembar, turut menikmati forum dan menyimak jalannya diskusi.
Rizal sebagai moderator merasa perlu untuk melibatkan Bu Via dalam forum Kenduri Cinta malam itu, sehingga Bu Via pun dipersilakan untuk bergabung di panggung utama diskusi Maiyahan malam itu.
Bu Via mengungkapkan rasa syukur dan bahagianya karena Kenduri Cinta masih terus berlangsung dalam kerangkan niat melanjutkan apa yang sudah dimulai oleh Mbah Nun. Kenduri Cinta sebagai salah satu forum Maiyahan menjadi sebuah energi bagi teman-teman Jamaah Maiyah untuk terus berkumpul.
“Bukan hanya kalian yang rindu, tapi saya juga rindu dengan Kenduri Cinta”, Bu Via menyampaikan kerinduannya di hadapan jamaah Kenduri Cinta malam itu. Memang sudah cukup lama Bu Via tidak hadir di Kenduri Cinta.
Malam itu, Bu Via kembali menekankan bahwa apa yang selama ini dilakukan oleh Mbah Nun, melalui Maiyahan yang telah melintasi waktu selama puluhan tahun, sejatinya hanya menitipkan satu harapan sederhana: Manfaat. Segala ilmu, tadabbur, hingga kegembiraan yang kita reguk di bawah tenda-tenda Maiyah adalah benih yang diharapkan tumbuh menjadi pohon-pohon rindang di masyarakat. Bukan tentang siapa yang paling pintar, tapi siapa yang kehadirannya paling bisa merangkul dan membantu sesama.
Sejalan dengan salah satu pesan Rasulullah SAW; khairunnas anfa’uhum linnaas. Bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.
Satu pesan kuat yang ditekankan Bu Via malam itu adalah tentang kedaulatan diri. Di Maiyah, kita tidak dididik untuk menjadi pengikut yang mbebek, melainkan individu yang mandiri dan berdaulat atas dirinya sendiri.
Mbah Nun tidak ingin kita menjadi duplikasi darinya. Beliau ingin kita menemukan kedaulatan kita masing-masing, menjadi manusia yang tegak di atas kakinya sendiri, berpikir dengan kepalanya sendiri, dan mencintai dengan hatinya sendiri. Inilah kedaulatan diri: saat kita berani menjadi diri sendiri tanpa harus kehilangan kemesraan dengan Tuhan dan sesama.
Bu Via dengan penuh ketegasan sekaligus kelembutan mengingatkan kita bahwa Mbah Nun adalah sosok yang tidak bisa digantikan. Maiyah sebagai ideologi bukanlah sebuah resep pabrikan yang bisa diduplikasi begitu saja untuk mencetak Mbah Nun baru. Maiyah diharapkan melahirkan manfaat dari nilai-nilai yang sudah diajarkan oleh Mbah Nun selama ini, tidak hanya melalui forum Maiyahan namun juga dari apa yang ditulis oleh Mbah Nun dalam buku-buku beliau.
Mbah Nun dan Maiyah adalah satu entitas, sebuah perjalanan panjang yang terjal namun penuh bunga. Nilai-nilai yang beliau ajarkan adalah warisan hidup yang tidak akan usang. Meski sosoknya tunggal, namun manfaat yang beliau tebarkan bersifat jamak dan akan terus mengalir di nadi setiap jamaah dalam hati yang lebih tenang.
Mendengar pesan tersebut, kita diajak untuk kembali menata niat. Kita bersyukur memiliki sosok seperti Mbah Nun, dan kita merayakan kedaulatan kita sebagai manusia melalui Maiyah. Mbah Nun sudah mewakafkan seumur hidupnya untuk kita semua, jamaah Maiyah. Mbah Nun sudah menemani kita dalam banyak kesempatan. Apa yang sudah diajarkan oleh Mbah Nun di Maiyah, sudah semestinya semua ajaran itu diaplikasikan, bukan hanya menjadi catatan ilmu semata.
Tema “Aktivasi Nasib” di Kenduri Cinta edisi April ini terasa semakin lengkap dengan pesan dari Bu Via ini. Kita memang tidak pernah memilih dilahirkan dari rahim Ibu yang mana, nasab keturunan kita sudah digariskan sejak awal, tidak ada opsi untuk memilih. Namun, begitu kita dilahirkan, ada nasab ideologis yang bisa kita pilih, dan salah satu nasab ideologis yang kita pilih adalah Maiyah. Kita bukan anak biologis dari Mbah Nun, tetapi dengan Maiyah, kita adalah anak ideologis dari Mbah Nun.
Satu pesan yang sangat mendalam dari Bu Via tentang kedaulatan diri adalah salah satu bentuk dari pengejawantahan ilmu Maiyah yang diajarkan oleh Mbah Nun. Bukan untuk menjadi orang lain, tapi untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri, demi menghadirkan manfaat yang seluas-luasnya. Karena pada akhirnya, di Maiyah kita tidak sedang mencari pemimpin, melainkan sedang bersama-sama mencari jalan pulang menuju cinta yang sejati. (Red/KC)








