Di malam hari, Jum’at, 13 Maret 2026, kami menggelar sebuah ruang untuk melingkar dan belajar bersama: Tuwuh Tresna Edisi 2 di Angkringan Obong, Tamanwinangun, Kebumen. Dan malam itu, sedulur yang datang lebih banyak daripada edisi sebelumnya.
Acara sinau bareng dimulai sekitar pukul 21.30, setelah sedulur semua melaksanakan salat tarawih—karena edisi 2 bertepatan dengan Ramadhan.
Ketika acara dimulai, hanya baru sekitar 10 orang yang datang untuk kemudian sedulur lain berdatangan secara berangsur-angsur hingga mencapai sekitar 30 orang.
Mereka ini datang dari berbagai ‘dunia’. Ada yang dari alam mahasiswa, ada yang dari planet seniman, ada yang dari jagat pekerja, bahkan sampai para penghuni apartemen pengangguran sekalipun datang ke acara ini.
Namun tenang saja, di ruang ini semuanya kembali setara: sebagai manusia.

Acara diawali dengan sapaan dan guyonan Mas Firman selaku moderator yang sepertinya masih terkena jetlag sepulang dari Semarang—yang baru tiba di Kebumen sekitar 2 jam sebelum acara dimulai.
Sapaan sapaan Mas Firman diterima dengan hangat, guyonannya pun mengena sampai-sampai dia dipanggil ‘Moderator Ekstrem’ oleh beberapa sedulur.
Setelah sapaan Mas Firman dirasa cukup, kita dialihkan navigasinya menuju do’a bersama, yang dipimpin oleh Mas Azy. Baru setelah selesai do’a, kami ditemani oleh nyanyian Mas Taul dan petikan gitar Mas Uki yang membawakan lagu Ruang Rindu dari Lettoi, yang menambah syahdu suasana pertemuan yang telah kami rindukan itu.
Acara dilanjutkan dengan sedikit pengenalan dari Mas Sulkhan tentang apa maksud dari logo Tuwuh Tresna yang ia buat untuk kami semua. Ternyata logo tersebut memuat banyak simbol termasuk huruf Nun itu sendiri sebagai simbol Mbah yang ngancani kami agar tetap dekat di ruang kami ini.

Selepas Mas Sulkhan, Mas Uki mendapatkan gilirannya untuk mengantarkan teman-teman menuju tema percakapan malam itu yang berjudul ‘Arkeologi Fitrah’. Mas Uki mengingatkan kita untuk merenungkan kembali sebelum kita berjumpa dengan Hari Raya Idul Fitri yang akan tiba sekitar 8 hari lagi, tentang apa sebenarnya yang kita pahami tentang ‘Fitri’ itu sendiri. Apakah sama antara Fitri yang kita tuju dalam imajinasi kita dengan Fitri yang kita tuju dengan sikap kita?
Kami mengingat kembali bahwa ‘iedul fitri dalam bahasa arab bisa berarti tiga hal: kembali suci, kembali pada fitrah (kecenderungan alami manusia), atau kembali makan?
Mana yang sebenarnya akan kita rayakan?
Kemudian Mas Uki beralih ke ‘puasa’. Ibadah yang diwajibkan sebulan terakhir sebelum Hari Raya Idul Fitri. Ia melemparkan pernyataan, bahwa kata puasa, dalam KBBI, memiliki dua arti motif: ritual dan medis. Setelah memaparkan beberapa kausalitas, Mas Uki mengantarkan kita pada beberapa tanda tanya: Kenapa puasa disebut dengan shaum di satu konteks dan shiyam di satu konteks lain? Apa maksud pembedaan dari kedua padatan itu?; Kenapa dalam Maiyah kita juga diajari untuk berpuasa dari puasa?; Apa hubungan antara puasa dengan ‘agar kamu bertakwa’ (Al Baqarah: 183)?; Apa hubungan takwa dan Fitri?; Apa pentingnya mencari makna Fitri?

Diskusi kemudian dialihkan ke Mas Azy sebagai orang yang kami pasrahi menjadi pemantik diskusi pertama. Namun siapa sangka, Mas Azy tidak memberikan kepuasan jawaban-jawaban pada sesi pertamanya. Ia justru menampar kita bahwa kefitrian kita ini terkubur jauh lebih dalam dari yang kita duga di dalam gundukan tanah ego dan prasangka.
“Namun di tengah kenyataan bahwa kita sudah terkubur jauh, kita harus tetap berusaha untuk menggali dan terus menggali. Karena kata Allah qad aflaḫa man zakkâhâ wa qad khâba man dassâhâ. Betapa beruntung yang menyucikan jiwanya, dan betapa rugi orang yang mengubur jiwanya (As-Syams: 9—10)” begitu ucapnya.
Ia meneruskan kegiatan meneropongnya itu ke arah lain. Kali ini ia mengeluhkan gejala sosial yang penuh pertikaian karena mempertengkarkan kebenaran kelompok masing-masing. Padahal, menurutnya, kebenaran mutlak itu sifatnya harus suci. Sedangkan mengingat bahwa manusia itu memiliki nafsu yang berpotensi menjadi tabir kesucian berupa kepentingan dan keserakahan, maka seharusnya tidak ada manusia yang berhak mengklaim kebenaran sepeninggal Rasulullah. Semuanya hanyalah hasil konstruksi kerangka pikir masing-masing manusia yang tentu terpengaruh banyak hal.
“Saya setuju dengan Mas Sabrang yang menanyakan hal menarik di salah satu acara podcast: ‘Badanmu adalah daging yang terbentuk dari makanan yang datang dari luar dirimu, kemudian pikiranmu terbentuk oleh informasi yang kamu tangkap dari luar dirimu. Kalau semua itu datang dari luar dirimu, lantas siapa dirimu?’ Adakah diri kita? Kok kita udah berani membawa identitas dan membelanya mati-matian sebelum memikirkan itu?” ungkap Mas Azy.
“Maka setelah idul fitri kita harus terus mentransformasi diri kita, karena jika kita mengaku sebagai umat nabi, maka kita perlu melanjutkan perjuangan para nabi untuk: mentransformasi peradaban. Tapi kalau belum mampu mentransformasi peradaban, minimal mentransformasi diri kita dulu.” ia tutup pembicaraannya setelah memaparkan beberapa konsekuensi pikiran yang lain.

Seusai Mas Azy, kita beralih ke pemantik kedua, Mas Nizar. Ia langsung membuka ‘orasi’ nya dengan pernyataan yang cukup berani, “Aku menyadari puasaku selama ini hanyalah formalitas ritual” ungkapnya.
“Padahal puasa sebagai dekonstruksi dan rekonstruksi sosial seharusnya berdampak transformasi seperti yang dikatakan Mas Azy. Jika puasa hanya menunda lapar dari fajar hingga senja lalu apa bedanya dengan hewan yang bisa dipaksa untuk melakukan itu? Kita dilatih untuk menambah kepekaan sosial. Berusaha memanusiakan orang lain untuk bisa memenuhi hak mereka. Puasa menjadi transformasi diri, bukan hanya melakukan simulasi kemiskinan yang terasa saat bulan Ramadhan yang seharusnya menjadi moment untuk latihan menahan hawa nafsu. Namun masih tetap saja ada yang masih menyakiti/merugikan makhluk lain. Esensi puasa seharusnya bekerja untuk melatih ketahanan diri untuk menahan nafsu.” lanjut Mas Nizar.
Baginya, puasa tanpa tranformasi diri dan sosial hanyalah kesolehan yang mandul. Empati yang diajarkan oleh puasa seharusnya juga bisa mengurangi fenomena saling curiga antara pemerintah dan rakyat. Ketika semua orang berpuasa dengan total, lahir batin, menurutnya, akan tercipta jalinan masyarakat dan pemerintah yang saling mengerti dan membantu.
Sesi pertama diistirahatkan. Nyanyian Mas Taul dan petikan gitar Mas Uki kembali memeluk dengan lagu Kepada Noor karya Panji Sakti.

Setelahnya, sesi kedua dimulai. Ada tiga responden, yakni Mas Wahid, Mas Luthfi, dan Mas Afif.
Mas Wahid membawa kita untuk membaca kembali bahwa idul fitri justru menjadi momen di mana orang-orang kembali memakai topeng masing-masing. Karena kita malah menempatkan Idul Fitri sebagai ajang balas dendam kelaparan perut dan kelaparan eksistensial selama puasa. Padahal semestinya, puasa membuat kita menjadi lebih jernih dengan kemampuan EQ dan SQ yang lebih mumpuni.
Perkara topeng-topengan ini direspon oleh Mas Uki yang menekankan kembali apa kepentingan dan korelasi antara fitri dan kebermanfaatan. Yang kemudian ia bawakan adalah tadabbur dari buku “Tadabbur Maiyah Padhangmbulan” terhadap Surat Al-Isra ayat 1. Tentang bagaimana orang yang suci akan diperjalankan oleh Allah dalam kegelapan sekalipun untuk melewati satu kebaikan menuju kebaikan berikutnya, dan diberkahilah sekeliling orang itu.
Mas Luthfi ikut merespon dengan pengantar berupa pengingat untuk kembali mengerucutkan diskusi yang mulai melebar. Di sini, beberapa sedulur sudah mulai ada yang pulang—jam sudah menunjukkan pukul 11 malam lebih. Ia melanjutkan respon terhadap tadabbur Al Isra ayat 1 tadi dengan menginformasikan bahwa mungkin saat ini memang zaman gelap. Di mana suara di bungkam, ruang diskusi mati dialektikanya, dan seperti yang dikatakan Mas Uki: masjid itu sendiri hanya berisi jamaah shalat, bukan jamaah masjid.
Ini di-iyakan oleh Mas Luthfi bahwa seharusnya masjid menjadi ruang pertemuan yang hidup dan menjadi ruang perumusan solusi masalah setempat secara berkala. Bukan hanya untuk acara ritual formal. Seperti yang kita ingat pada Masjid Nabi Muhammad dulu.

Disambung pertanyaan Mas Afif: “Bagaimana mengkalkulasi kepunyaan/harta seseorang untuk dibagikan kepada orang lain sebagai bentuk saling membantu atau kebermanfaatan? Sedangkan terkadang ada orang yang butuh bantuan, tapi kita tak bisa membantu?”
Pertanyaan ini direspon dengan serius secara beruntun. Mas Azy menyemangati dengan poin: suatu kaum akan berubah hanya jika kaum itu berusaha berubah. Ingatlah bahwa implementasi dari anjuran itu diawali dengan pengembangan masing-masing individu, transformasi—perubahan setiap individu. Kalau kamu belum mampu, maka jangan dipaksakan. Bantulah dulu dirimu untuk berkembang.
Mas Nizar menambahkan kelegaan dengan mengatakan “Tidak perlu memkasakan memberi sesuatu ketika masih kekurangan untuk diri sendiri. Peduli secara rasa pun sudah sebagai bentuk kemanusiaan.”
Mas Uki kemudian menyambung keduanya, bahwa jika kamu merasa tidak diberi fadhilah untuk membantu seseorang secara material, jangan stress untuk menganggap bahwa itu amanahmu. Mungkin urusan materi sudah diamanahkan ke orang lain. Kamu bisa bantu menemani dan ngajak ngobrol? Ya temanilah orang yang punya masalah itu. Kamu hanya bisa kasih do’a? Ya doakanlah. Kalau cuma bisa kasih cinta? Ya cintailah. Sambil kamu mengukur batas kemampuan dan kemudian menerobos batas itu. Karena kita perlu teliti untuk membedakan antara batas kemampuan yang ditentukan Tuhan untuk manusia dengan batas kemampuan yang kita ciptakan sendiri.
***

Sesi ditutup dengan lagu Sang Guru karya Panji Sakti, dan sebuah puisi karya sahabat kami Idez Adhie Aksara yang ia buat khusus untuk acara ini, dan ia suarakan dengan mulutnya sendiri ditemani petikan gitar Mas Uki:
Kukupas Artefak Adam
Pena: Idez Adhie Aksarra
Kukupas dunia kutemui sejarah
yang basah oleh keruh air mata
dalam artefak-artefak di pipi manusia
yang lupa hulu muasalnya
Kukupas air mata kutemui gelombang
dari badai lama yang ditabur sunyi
menderap di dada para pelayar
menuju pulang namun buta peta tujuan
Kukupas gelombang kutemui bahasa
yang merintik dalam tubir-tubir jiwa
di antara rusuk dada: dingin mendesis
bersama doa yang tandus
Kukupas bahasa kutemui tafsir
yang pudar oleh pilar-pilar logika
dari tubuh yang berulang kehilangan nama,
makna, serta esensi dirinya
Kukupas tafsir kutemui warna dunia
yang berkelindan dalam jarum waktu rupa peristiwa goreskan merah
membiru
lebam dalam hitam tak bermakna
di antara warna-warna aku terkelupas dari muasal
serupa huruf tanggal dari kitabnya
serupa gema bergaung tanpa makna
lalu aku—
terhanyut dalam tinta menjadi kisah di lembar waktu
terbuai dalam warna
menjadi taswir yang ragu
terlena dalam pekat tanah
yang lepas dari jantung Adam
merekat dalam aku
mengembara dalam dansa Azazil
runtuh dalam deru
menghantam ombak nadi-nadi wahyu
terpental dari pangkuanmu
seperti bocah yang lupa rahim ibu
lalu kukupas aku
helai demi helai
lapis demi lapis
anasir demi anasir
hingga tiba pada sunyi paling purba
di sana—
kutemui rentang pelukmu
lirih belaimu dalam bisik
mendesir dari kedalaman tak terperi
menggema muasalku: alastu birobbikum, qōlū balā syahidnā
Selepas puisi ini dibacakan, acara masih berlanjut hingga pukul setengah 2 dini hari. Karena tepat setelah tengah malam, para sesepuh baru hadir dalam lingkaran. Kemudian kami ngobrol—guneman ingkang sae-sae sampai pukul setengah 2.
Kami membawa pulang renungan dan pertanyaan masing-masing, untuk terus diingat, diolah, dan kemudian mengolahnya menjadi manfaat.
Kebumen, Maret 2026.









