Coba kita hitung aneka makanan, minuman, produk kerajinan, bahkan produk budaya atau bahasa yang telah dan dapat diciptakan masyarakat desa kita. Kita mungkin akan terkejut, karena kreativitas masyarakat desa seolah tak pernah habis menggeliat.
Dari alam yang sederhana, lahir atap dari dedaunan, tikar dari pandan, mainan dari bambu, hingga beragam makanan yang memenuhi pasar-pasar tradisional.
Namun, rasa-rasanya keberagaman itu mulai tergerus. Bukan karena tanah desa kehilangan kesuburannya, melainkan karena cara pandang kita yang berubah.
Sedikit demi sedikit, sadar atau tidak sadar, ditanamkan winih anggapan bahwa yang berasal dari desa adalah kuno, sementara yang berasal dari luar selalu lebih bernilai. Tak sedikit orang yang gengsi untuk makan thiwul karena dianggap makanan rendahan yang hina.
Akibatnya, banyak anak muda lebih berlomba-lomba secepatnya meninggalkan desa demi menjadi pekerja di kota daripada mengolah potensi yang tumbuh di tanahnya sendiri.
Lama-kelamaan, desa kehilangan banyak hal. Berkurangnya orang-orang usia muda yang produktif di desa, sulitnya mencari penerus kesenian khas desa, bahkan kemandirian ekonomi, apalagi kemampuan untuk berdaulat atas kehidupannya sendiri.
Maka dari itu, kita duduk bersama malam ini untuk sinau bareng.
Jika kita bayangkan “desa yang berdaya” adalah pohon besar, maka kita akan bersama-sama mencari mana ‘Winih Desa’ yang perlu ditanam, bagaimana ‘Pupuk Desa’ yang perlu kita racik, bagaimana cara ‘Nandur Desa’ yang baik, dan bagaimana caranya kita nyengkuyung bareng ‘Ngrumat Desa’ agar ia tumbuh menjadi pohon yang rimbun, kokoh, dan mampu meneduhi siapa pun yang hidup di bawahnya.[]








