Ketika ada kebenaran di hati apa lantas kita merealisasikan dalam perbuatan baik yang nyata? Terus-menerus menjadikan kebaikan dalam perbuatan hingga jadi kebiasaan? Atau malah sebaliknya hingga jadi kebiasaan untuk mengabaikannya?
Sunnatullah atau hukum alam itu aneh, dan sama sekali tak selalu bisa dikendalikan oleh rekayasa atau cultural engineering yang kita lakukan. Dalam hal-hal tertentu kita harus bersikap konsepsional dalam mengelola hidup, tapi untuk soal-soal tertentu yang kita andalkan adalah kemampuan improvisatoris. (https://www.caknun.com/2020/kebiasaan-untuk-hidup)
Dari pargraf di atas jika kita ingin mengaktulisasi hati ke perbuatan nyata kita tetap tidak bisa lepas dari Sunnatullah. Bentuk kebaikan selalu berjalan beriringan dengan kehendak Allah SWT. Mbah Nun melatih anak cucunya untuk selalu berlaku baik sebagai kesatuan gerak yang auto.
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ
(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Ali ‘Imran : 134
Ayat di atas mengingatkan kita untuk selalu mengaktualisasi kebaikan dalam hati pada setiap kondisi. Kita menemui kondisi kehidupan seperti itu pada perjalanan hidup Rasulullah. Untuk lebih mudah menjangkau dan mengaktualisasi, Mbah Nun sudah mencontohkan. Sejak muda dididik untuk kuat puasa. Prihatin. Hidup molekatan. Hingga menjadi habit.
Dalam kesempatan bersilaturahmi penggiat Maiyah Ma’syar Mahamanikam dengan ayah Mas Jo (sedulur Maiyah di Samarinda) bertutur “lek watuk iso diobati lek wes watak angel diobati”. Sebagai yang tersentuh hidayah melalui nasehat-nasehat Mbah Nun lantas melebelkan diri ‘anak-cucu’ apakah kita sudah tidak berwatak pelit? Mampu mengendalikan amarah? Dan lapang dada untuk memaafkan? Jangan-jangan selama ini bergembira dikeriuhan maiyahan tapi tetap diam-diam berwatak buruk. Jauh dari nilai yang Mbah Nun bawa dalam kehidupannya yang mencontoh perilaku Rasulullah.
Seyogyanya kita harus sudah memiliki habit untuk menjadi tidak seperti nasehat Mbah Nun pada paragraf di bawah. https://www.caknun.com/2017/miskin-pola-ekspresi-salah-satu-masalah-anak-anak-muda-kita.
Bahkan, dalam menempuh cita-cita pun kalau bisa yang simpel saja. Jalan pintas. Praktis saja. Tidak mengeksplor pentingnya latihan ketahanan terhadap waktu. Kurang tergalinya potensi kreatif sejak kecil akan menyebabkan krisis wujud ekspresi individu. Kita pengin cepat enak, hingga gampang menyerah, gampang kompromi, tipis konsistensi, kesetiaan ringkih. Ekornya banyak. Kita jadi gampang ditimang-timang oleh kata, slogan, hiburan tanpa diimbangi oleh disiplin tanggung jawab terhadap realitas. Orang juga menjadi luwes terhadap ketidakberesan, kebobrokan, pengingkaran, ketidaksetiaan, kemunafikan, dan kesemuan. Terlampau terpaku kepada status, simbol, formalitas, baju dan rumbai-rumbai.
Iktiar membentuk habit baik yang kelak menjadi tradisi baik untuk diwariskan. Dengan berkumpul maiyahan mendengarkan, merasakan, dan menjalani dengan keindahan. Mencari titik temu kebersamaan dari siapa saja yang hadir dalam kerendahan hati. Hadir dan mengalir memberikan sekaligus menikmati suguhan prasmanan ilmu. (Redaksi Ma’syar Mahamanikam)








