Kita sedang sibuk membangun “tugu eksistensi” yang mengatasnamakan kemajuan dan masa depan: jalan, kawasan industri, kecerdasan buatan, dan berbagai macam “masa depan”.
Tetapi ada pertanyaan yang mungkin jarang muncul di ruang rapat.
Kalau nanti benar jadi emas, siapa yang akan memakainya; manusia yang utuh, atau manusia yang sedang kehilangan dirinya sendiri?
Kita hidup di zaman yang aneh. Informasi berlimpah, tapi kebijaksanaan sering kehabisan stok. Koneksi semakin cepat, tapi hati antarmanusia justru sering buffering.
Kita bangga menjadi generasi yang serba digital. Namun jangan-jangan, yang paling sering di- upgrade adalah perangkatnya, sementara manusianya masih versi lama.
Di tengah gegap gempita kemajuan itu, ada tagihan yang belum sempat kita buka, Utang Peradaban. Bukan utang bank. Bukan utang negara. Melainkan utang kepada para pendahulu yang telah mewariskan negeri ini. Utang kepada alam yang terus memberi tanpa mengirim invoice. Utang kepada anak-cucu yang kelak akan menerima hasil atau kerusakan dari pilihan kita hari ini.
Dalam Islam, manusia adalah pemegang amanah. Sayangnya, kadang kita lebih rajin membaca syarat dan ketentuan aplikasi daripada memahami amanah kehidupan.
Mungkin perlu sedikit nakal. Bukan membahas bagaimana menjadi negara kaya, tetapi bagaimana tetap menjadi manusia ketika negara sedang berusaha kaya.
Karena bisa jadi, tantangan terbesar Indonesia emas bukan soal kekurangan sumber daya, melainkan kekurangan kesadaran bahwa kita masih punya Utang Peradaban yang harus dilunasi bersama.
Sabtu 20 Juni 2026
PARAGRAF LAMA KOPI
Suwayuwo Kec. Sukorejo Kab. Pasuruan








