Kita hidup di zaman yang berisik, bukan karena dunia kekurangan suara, tetapi karena terlalu banyak gema yang saling bertabrakan. Dunia maya menjelma seperti pasar tanpa malam, sangat riuh, cepat, dan seringkali dangkal. Di sana, nilai manusia direduksi menjadi angka, para pengikut menjadi tepuk tangan, dan popularitas diangkat menjadi otoritas. Perlahan tapi pasti, kita mulai menukar keheningan hati dengan keramaian pengakuan.
Tanpa sadar, kompas batin kita mulai berputar liar. Kita merasa bebas, namun kehilangan arah. Kita merasa terhubung, namun justru makin jauh dari diri sendiri. Etika menjadi opsional, empati menjadi langka. Seolah-olah kita sedang hidup di panggung besar, tetapi lupa siapa penontonnya, bahkan lupa siapa diri kita sebenarnya.
Dan apa yang terjadi di dalam diri, diam-diam menjalar keluar. Semesta tidak pernah benar-benar diam; ia mencatat, ia merespons. Kerusakan yang kita lihat hari ini bukanlah peristiwa yang jatuh dari langit tanpa sebab. Ia adalah akumulasi dari keputusan-keputusan kecil yang kita anggap remeh. Keserakahan yang tumbuh dari kekosongan jiwa, ambisi yang lahir dari kehausan pengakuan, semuanya menjelma menjadi tangan-tangan tak terlihat yang merusak keseimbangan alam.
Gunung tak lagi sekadar kokoh, laut tak lagi sepenuhnya ramah, dan langit pun kadang menyimpan murka. Bencana bukan hanya fenomena alam, melainkan bahasa semesta yang sedang berbicara, bahwa ada yang tidak lagi selaras. Bahwa ada harmoni yang telah kita abaikan terlalu lama.
Melalui tema “Semestinya Semesta”, kita tidak sedang mencari siapa yang salah. Kita sedang mencari apa yang hilang. Ini bukan forum untuk menghakimi dunia, melainkan ruang untuk menengok ke dalam diri. Sebab bisa jadi, kerusakan besar di luar sana berakar dari retakan-retakan kecil yang kita biarkan tumbuh dalam diri kita sendiri. Semesta makro tidak akan pernah pulih jika semesta mikro di dalam diri manusia masih berisik oleh ego, penuh oleh ambisi, dan kosong dari makna. Karena semestinya semesta, bukan hanya tentang alam yang terjaga, tetapi tentang manusia yang kembali menjadi manusia. (Redaksi SP)








