Warid adalah kecenderungan hati untuk berbuat baik, kecenderungan itu sebenarnya dititipkan pada setiap hati manusia. Ironisnya bisikan baik di hati cenderung terjegal untuk di laksanakan. Apa penyebabnya? Ini akan diudar bersama dalam perjumpaan sinau bareng Majelis ‘Ilmu Muhammad Ainun Najib di edisi 79 Ma’syar Maiyah Mahamanikam.
Berangkat dari Tadabbur ke-19 “Allah Meluaskan Manusia Menyempitkan”. Mbah Nun mengajak untuk menemukan pola yang Allah tetapkan dalam surah pembuka dan penutup di mushaf Al-Qur’an yang kita miliki. Al-Fatihah dan An-Nas.
Allah seakan menggambar kehidupan ini. Yang bagian awal kemahaluasan Allah dan bagian akhir keamat-sempitan gara-gara polah Jin dan manusia. Diawali maha luas dan agungnya Rahman Rahim, diakhiri dengan “sumpeg” dan pengap hasil karya “yuwaswisu fi shudurinnas” oleh “minal jinnati wannas”.
Waspada selalu berjuang jangan sampai menjalani hidup dengan tidak mengerti dan tidak mengerti bahwa ia tidak mengerti (“rajulun la yadri wala yadri annahu la yadri”). Dan berusaha keras menjadi “rajulun yadri wa yadri annahu yadri” (mengerti dan mengerti bahwa ia mengerti).
Dua paragraf di atas dikutip dari tadabbur Mbah Nun. Ikhtiar kita melingkar dalam maiyahan untuk berupaya menjadi manusia baik. Mengemis kepada Allah SWT agar berkenan melimpahkan petunjuk. Berkesadaran terus-terusan mendekat ke Kanjeng Nabi Muhammad SAW. (Redaksi Mahamanikam)








