Wa maa adraaka maa Waqtu
Waktu terus berjalan. Ia tidak pernah menunggu, tidak bisa dihentikan, tidak bisa diulang. Sejak sebelum kita ada, waktu sudah bergerak. Setelah kita tiada, ia akan tetap berlanjut. Waktu adalah misteri yang begitu dekat namun sulit dipahami. Kita bisa mengukur detiknya, jamnya, hari dan tahunnya, tetapi kita tidak pernah benar-benar menguasainya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi waktu. Sungguh, manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
(QS. Al-Asr: 1-3)
Allah bersumpah dengan waktu, menandakan bahwa waktu bukan sekadar fenomena biasa. Waktu adalah ukuran keberuntungan atau kerugian manusia. Mereka yang menggunakannya untuk beriman, berbuat baik, dan saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran, merekalah yang selamat. Sisanya, rugi.
Lalu, berapa banyak waktu yang telah kita sia-siakan?
Dari 24 jam yang diberikan kepada kita setiap hari, Allah hanya mewajibkan kita meluangkan sekitar 50 menit untuk sholat lima waktu. Itu pun, jika kita benar-benar mendirikannya dengan khusyu’. Tidakkah kita merasa malu? Apakah 50 menit cukup untuk mengganti nikmat yang telah Allah berikan kepada kita dalam hidup?
“Menyia-nyiakan waktu itu dosa,” begitu prinsip yang dipegang oleh Simbah. Maka dari itu mari memaknai waktu, agar kita tidak terjebak dalam kerugian yang disebutkan dalam Surah Al-Asr. Kita tidak berkumpul (dikumpulkan) hanya karena kebetulan, tetapi karena ada nilai yang ditebarkan oleh Simbah yang kemudian kita sadari, kita tumbuh didalamnya, dan kita uri-uri agar senantiasa hidup dan agar gelombang dan ilmu yang telah disampaikan Simbah dapat bermanfaat.
Wa maa adraaka maa Waqtu—Dan tahukah kamu, apakah waktu itu?
Dalam dimensi ilmiah, manusia berusaha memahami waktu dengan mengukur rentangnya, mengamati pergerakan benda langit, dan mencatat sejarah. Namun dalam dimensi spiritual, waktu adalah ujian. Ia bisa menjadi berkah atau bencana, tergantung bagaimana kita mengelolanya. Dalam hadits Nabi, disebutkan:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا عَلَى شِرَارِ النَّاسِ
“Kiamat tidak akan terjadi kecuali di atas orang-orang yang paling buruk.”
(HR. Muslim 5243)
Dan tanda akhir zaman itu, salah satunya, adalah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam hadits lain disebutkan:
بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ
“Aku diutus dan kiamat itu seperti dua jari ini (yakni sangat dekat).”
(HR. Bukhari 4936, Muslim 2951)
Jika sejak 1400 tahun lalu Nabi sudah mengingatkan bahwa kita hidup di penghujung zaman, maka bagaimana mungkin kita masih menyia-nyiakan waktu?
Extra Time
Dalam pertandingan sepak bola, waktu tambahan diberikan sebagai kesempatan terakhir sebelum peluit panjang dibunyikan untuk meraih Kemenangan. Begitu pula hidup kita—setiap detik yang masih kita miliki adalah Extra Time yang Allah berikan agar kita memperbaiki diri, mengejar yang belum kita lakukan, dan menanam benih kebaikan sebelum waktu untuk kita benar-benar habis dalam menjalani kehidupan di dunia.
Tapi, apakah kita sadar bahwa kita sedang berada di Extra Time?
Kita tidak bisa memaksa semua orang untuk menghargai waktu. Tetapi kita bisa mulai dari diri sendiri. Start from yourself. Jangan menunggu orang lain berubah untuk kita berubah. Jangan menunggu keadaan membaik untuk kita menjadi lebih baik. Jika kita memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, mungkin tanpa kita sadari, orang-orang di sekitar kita juga akan ikut terpengaruh dan berubah.
Maka, di tengah riuh rendah kehidupan yang bergerak tanpa henti. Mari sejenak untuk mengingat, memaknai dan merenung bahwa waktu bukan hanya angka, tetapi juga amanah.
Sebelum peluit panjang ditiupkan, sebelum semua kesempatan habis, sebelum Extra Time berakhir—mari kita gunakan waktu ini sebaik-baiknya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
(Redaksi Tongil Qoryah)








