Pernahkan kita menyadari bahwa justru dalam kesunyianlah suara yang sejati itu terdengar? Bahwa dalam suasana sepi, kontemplatif dan meditatif seperti itu – atau dalam posisi keterpinggiran, ketersingkiran – justru bergaung-gaung swaraning asepi? Sirrullah, rahasia kebenaran Allah yang hakiki? [Emha Ainun Nadjib]
Bulan ini Rutinan Sinau Bareng Majelis Maiyah Waro’ Kaprawiran memasuki etape 4 dari, insyaAllah, 12 etape perjalanan sinau bareng di tahun 2026. Di tengah stok penggiat yang menipis, dengan segala daya upaya, kita mencoba othak-athik gathuk, merangkai makna yang selaras dengan angka 4. Sebagai penanda etape ini, kita dipertemukan dengan suku kata Fa, nada keempat dalam deret tangga nada. FA adalah suku kata pertama dari frasa Famuli tuorum, baris keempat dari hymne Ut queant laxis, yang ditulis untuk Santo Yohanes Pembaptis—yang secara harfiah berarti “hamba-hambamu”.
Hymne ini sangat terkenal karena memiliki peran penting dalam sejarah notasi musik, khususnya solmisasi. Suku kata awal tiap baris dalam hymne itu menjadi dasar tangga nada yang kita kenal hari ini—sebuah penemuan yang sederhana, namun dampaknya melintasi zaman.
Ut queant laxis
REsonare fibris
MIra gestorum
FAmuli tuorum
SOLve polluti
LAbii reatum
Namun seperti banyak kisah dalam perjalanan peradaban manusia, asal-usul ilmu tidak selalu lurus seperti garis penggaris. Ada yang berpendapat bahwa sistem solmisasi ini juga memiliki jejak dalam khazanah ilmu musik dunia Islam. Beberapa peneliti mengaitkannya dengan teori musik yang dikembangkan oleh Al-Farabi, filsuf besar abad ke-9, yang mengenalkan pendekatan nada dengan suku kata mi, fa, shod, la, sin, dal, ro. Ada pula yang menghubungkannya dengan sosok legendaris di Andalusia, Ziryab—seorang pemusik, budayawan, sekaligus trendsetter pada zamannya, yang memperkaya lanskap musik di wilayah Spanyol Islam.
Tetapi bukan sejarah solmisasi yang akan menjadi pokok sinau bareng bulan ini. Karena kita memahami, bahwa solmisasi sendiri adalah buah dari perjalanan panjang peradaban manusia yang saling belajar satu sama lain—sebuah cara Tuhan merawat ilmu di dunia ini. Ia tidak diberikan sekaligus kepada satu bangsa, tidak dimonopoli oleh satu agama, dan tidak dimiliki oleh satu golongan. Ilmu itu seperti air—mengalir dari satu lembah ke lembah lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dan mungkin, tanpa kita sadari, apa yang kita lakukan malam ini adalah bagian kecil dari aliran panjang itu.
Dalam tradisi gereja Katolik, hymne ini dinyanyikan pada perayaan kelahiran Santo Yohanes Pembaptis (24 Juni), sebagai pengharapan syafaat untuk membersihkan bibir yang tercemar dosa, membebaskan lidah yang terbelenggu, dan memampukan manusia menggemakan keagungan Tuhan yang telah dipertunjukkan melalui keajaiban karya-karya beliau. Ada kesadaran mendalam di dalamnya—bahwa manusia bukan pemilik suara sejati, melainkan hanya gema yang memantulkan kebenaran. Gema tidak pernah menambah atau mengurangi; ia setia pada sumbernya.
Namun dalam kenyataan, seringkali gema itu berubah—tercampur kepentingan, ego, bahkan ketakutan. Di titik itulah yang kita suarakan bukan lagi kebenaran, melainkan diri sendiri yang sedang mencari pembenaran. Maka pertanyaannya menjadi sangat mendasar: bagaimana membedakan antara gema yang jernih dan gema yang telah terdistorsi, sementara keduanya sama-sama terdengar meyakinkan?
Di sinilah solmisasi memberi kita pelajaran yang tidak sekadar musikal, tetapi juga eksistensial. Ia mengajarkan keteraturan, keselarasan, dan kesadaran peran. Sedikit saja meleset dari nada dasar, seluruh komposisi berubah makna. Yang semula harmoni menjadi sumbang, yang semula indah menjadi gaduh. Tidak semua harus menjadi melodi utama—ada yang menjadi pengiring, ada yang menjaga ritme, bahkan ada yang nyaris tak terdengar, namun justru menentukan arah keseluruhan. Ketika semua ingin menonjol, yang lahir bukan musik, melainkan kebisingan yang melelahkan. Tetapi ketika setiap unsur rela mengambil perannya, keindahan justru lahir dari perbedaan itu sendiri.
Bukankah ini cermin dari kehidupan kita hari ini? Kita hidup dalam riuh rendah yang nyaris tak memberi ruang bagi keheningan. Kita tenggelam dalam kebisingan yang membuat kita lupa seperti apa sebenarnya suara sejati itu. Kita berbicara, tetapi tidak selalu bersuara. Kita bersuara, tetapi belum tentu menggemakan kebenaran.
Adagium Latin Vox populi, vox Dei—suara rakyat adalah suara Tuhan—sering kita dengar sebagai fondasi moral demokrasi. Namun dalam kenyataan, suara rakyat justru kerap terabaikan, bahkan kehilangan kemurniannya. Jangan-jangan yang kita sebut suara rakyat hari ini bukan lagi gema keagungan Tuhan, melainkan gema kepentingan, ambisi pribadi, keangkuhan, dan egoisme golongan. Jika demikian, maka yang hilang bukan hanya keadilan, tetapi juga kejernihan makna dari suara itu sendiri.
Maka sinau bareng ini bukan sekadar forum berkumpul, melainkan ruang untuk mengendapkan rasa, menata hati menjernihkan pikiran. Bersama merangkai nilai dan merajut makna untuk menata ulang nada dasar kehidupan kita. Mencari dan menemukan kembali suara sejati.
Barangkali untuk menemukan suara sejati, kita memang harus berani mengembara—bukan ke tempat yang jauh, tetapi ke dalam kesunyian diri sendiri. Di sanalah, mungkin, kita akan kembali mendengar swaraning asepi yang selama ini tenggelam oleh hiruk pikuk dunia.
Dan dengan kesadaran itu, semoga kita tidak sekadar menjadi bagian dari kebisingan, tetapi menjadi gema yang setia—yang jernih, yang lurus, yang tidak menambah dan tidak mengurangi.
Sehingga pada akhirnya, kita pantas digolongkan sebagai Famuli tuorum—hamba-hamba-Mu.








