Mungkin ada yang mengira bahwa gotong royong adalah warisan sosial yang otomatis hidup dalam diri kita, seolah ia adalah “gen” yang tidak akan hilang. Namun, jika cara berpikir manusia bisa dikendalikan, maka bukan tidak mungkin gen itu pun perlahan dapat dilumpuhkan. Sebagaimana banyak diurai dalam refleksi Maiyah, penjajahan hari ini tidak lagi selalu berbentuk fisik, tetapi masuk ke wilayah yang lebih halus, yaitu cara berpikir manusia itu sendiri. Maka persoalannya bukan sekadar apakah kita masih mengenal gotong royong, tetapi apakah cara kita memandang hidup masih memungkinkan nilai itu tumbuh.
Di masa lalu, manusia hidup dengan kesadaran keterhubungan, dengan sesama dan dengan alam. Namun pola pikir struktural yang diwariskan dari sistem modern perlahan menggeser cara pandang itu, dari yang semula setara menjadi hierarkis, dari yang semula “kita” menjadi “aku” sebagai pusat. Hari ini, pergeseran itu menemukan bentuk barunya melalui teknologi. Media sosial dan algoritma tidak sekadar menyajikan informasi, tetapi juga membentuk cara kita melihat, memilih, bahkan merasakan sesuatu.
Kita sering merasa bebas karena bisa mengakses apa saja melalui genggaman tangan. Padahal, bisa jadi yang kita lihat hanyalah potongan-potongan realitas yang sudah dipilihkan. Dalam konteks ini, pengendalian tidak lagi tampak sebagai paksaan, tetapi sebagai kebiasaan yang terasa wajar hari ini. Cara berpikir kita diarahkan tanpa terasa, melalui arus informasi yang terus-menerus mengalihkan perhatian dan membentuk preferensi kita. Jika cara berpikir sudah dibentuk, maka cara kita memandang sesama pun ikut berubah, dari yang seharusnya saling menguatkan menjadi saling membandingkan, bahkan bersaing.
Di titik inilah kita perlu bertanya kembali, apakah gen gotong royong itu benar-benar akan hilang, atau hanya terhijab oleh cara berpikir yang tidak lagi memberi ruang bagi kebersamaan? Hari ini mungkin kita tidak kekurangan nilai, tetapi kehilangan kesadaran untuk menghidupkannya. Maka melalui forum ini, kita mencoba membuka kembali lapisan-lapisan yang menutupi kesadaran itu. (Redaksi Suluk Surakartan)








