Delapan tahun bukan sekadar hitungan usia, melainkan rangkaian langkah yang telah ditempuh dengan penuh kesadaran—kadang goyah, kadang tegar, namun senantiasa terus bergerak dalam irama yang tenang nan teguh. Menuju milad ke-8 Tembang Pepadang kali ini kami awali dengan Sinau Bareng dengan tema: “Kinanti”, sebuah pilihan yang sarat makna. Dalam khazanah tembang macapat, Kinanti berarti “kanthi”—dituntun, digandeng, dan disertai. Ia melambangkan fase kehidupan di mana seseorang tidak lagi berjalan sendirian, melainkan mulai belajar menata arah dengan bimbingan, dengan kesadaran akan laku, serta kerendahan hati untuk menerima tuntunan.
Kinanti bukan soal siapa yang paling cepat untuk mandiri, melainkan siapa yang mau berjalan dengan penuh kesadaran: tahu asal muasalnya, memahami ke mana arahnya, dan menjaga setiap langkah dengan nilai-nilai yang dipegang teguh. Di usia kedelapannya ini, Tembang Pepadang seolah sedang berdiri di persimpangan refleksi: apakah perjalanan selama ini hanya menjadi rutinitas biasa, ataukah ia benar-benar telah menjadi laku yang menuntun? Sebab dalam semangat Kinanti, yang terpenting bukan sekadar bergerak, melainkan bagaimana gerakan itu memiliki arah yang jelas, bagaimana langkah itu tetap terikat dengan nilai, dan bagaimana Maiyah menjadi penuntun sejati, bukan sekadar keramaian semata. Oleh karena itu, kita memilih untuk terus “dikanti”—dituntun oleh nilai-nilai luhur, oleh kebijaksanaan, dan oleh kesadaran Maiyah.
Semoga Tembang Pepadang senantiasa setia pada jalannya: Kecil tapi nyata, sunyi tapi hidup. Dan mari merapat sebelum MBG dihentikan, Setiap Kata milik Allah. (Redaksi Tembang Pepadhang)








