Barangkali ada fase ketika kita menganggap syukur adalah perkara yang sederhana dan mudah. Semudah mengucap “alhamdulillah” saat bahagia, saat rezeki lancar, saat urusan dilancarkan, saat hidup terasa sedang berpihak kepada kita. Namun, realitas hidup menyuguhkan wajah yang tak selalu ramah. Ada kalanya langkah terasa abot dan seret, benak memikul tanya, dan apa yang terjadi tak melulu sesuai ekspektasi. Pada fase semacam itu, rasa-rasanya, syukur menjadi soal yang pelik.
Jika diingat-ingat lagi, nampaknya sudah tak terbilang nasihat perihal syukur disampaikan dan lalu mampir ke telinga kita. Di mimbar khotbah jumat, di tengah majelis ta’lim, dan di berbagai platform digital, tak susah kita dapati para muballigh mengingatkan kita agar pandai bersyukur dan menghindari kufur nikmat. Kita pasti sudah cukup karib mendengar para juru dakwah menyitir firman Allah SWT di Al Qur’an Surat Ibrahim ayat 7 :
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
Artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“.
Pun sedari kecil, kita diajari dan dilatih oleh orang tua kita mengucapkan “terima kasih” atas setiap pemberian. Lisan kita dibiasakan untuk mengujarkan “alhamdulillah” setiap kali menerima nikmat termasuk yang “kecil-kecil” ; usai minum, selepas makan, ataupun bersin.
Namun barangkali di zaman sekarang ini, kadang lisan ini justru makin susah mengucapkan kalimat syukur itu. Bukan karena kita tak mengenal diksi “alhamdulillah”, tapi disebabkan oleh kurikulum urip yang tak lagi sesuai selera dan harapan. Atau barangkali lidah tak susah melafalkannya, tapi tak lebih dari sekadar ujaran belaka ; tidak ngrembes hingga kesadaran hati, tidak menjelma menjadi kejernihan pandangan, tidak tumbuh menjadi kelapangan batin.
Demi upaya metodologis dalam membentuk sikap syukur, Kanjeng Nabi menawarkan nasihat “Pandanglah orang yang berada di bawah kalian, jangan memandang yang ada di atas kalian, itu lebih laik membuat kalian tidak meng-kufuri nikmat Allah.”
Di tengah rindangnya kebun nilai-nilai Maiyah, Mbah Nun pernah mengetengahkan terminologi yang memudahkan terkait hal ini, yakni rasa syukur natural dan rasa syukur kultural. Betapa selama ini acap kali kita hanya beredar pada wilayah kultural ; rasa syukur yang bergantung pada dialektika kejadian sehari-hari. Mbah Nun mengajak kita semua untuk menggapai kesadaran bahwa :
“Tidak ada satu celah pun dalam kehidupan yang membuat manusia bebas dari rasa syukur. Karena seluruhnya ini kalau kita perhatikan baik ke dalam atau keluar diri kita, itu semua kita akan bersyukur. Bahwa ada keadaan-keadaan teknis pada ruang dan waktu tertentu di mana kita rugi, kekurangan rizki, kurang menyejahterakan anak istri, atau kesulitan mencari nafkah, itu kan tetap kalah dengan adanya alammu, adanya tangan dan kakimu (syukur natural)”.
Mbah Nun melatih kita senantiasa berpikir secara mendasar. “Ibarat pohon itu ya harus mengakar. Hidup harus kita sadari sejak dari hulunya. Dan dari situlah kita bersyukur. Sudahlah, apapun yang terjadi, mau penderitaan, mau kesengsaraan, mau ketertindasan, mau apapun, keputusannya tetap sama, hilirnya tetap sama ; bersyukur dan optimis”
Dulur, mari berbareng terus melakukan ikhtiar pencarian demi mengarungi khazanah pengetahuan ihwal syukur, menguak lapisan-lapisannya. Semoga kita diperkenankan beroleh guyuran pengetahuan serta endapan nilai-nilai yang awet melekat di batin kita, dan terbimbing untuk terus berlatih menjalankannya. Karena bagaimanapun, ilmu kuwi kalakone kanthi laku.
Yuk melingkar kembali di Majelis Ilmu Telulikuran Maiyah Damar Kedhaton Gresik edisi ke-112 dengan payung tema “Jalan Syukur” pada :
Hari/Tanggal : Jumat, 10 April 2026
Pukul : 20.23 WIB
Lokasi : Rumba Nusantara, Perum Alam Singgasana Blok i-14, Cerme, Gresik
(Redaksi Damar Kedhaton)








