Ramadhan telah pergi, meninggalkan jejak sunyi di hati kita. Sehari penuh lapar, sebulan penuh menahan diri, tapi pertanyaannya; apakah kita pulang dengan jiwa yang ringan, atau masih membawa beban lama?
Idul Fitri bukan sekadar hari yang dirayakan. Ia adalah cermin bagi siapa kita sesungguhnya. Apakah kita kembali seperti sebelumnya, atau lahir kembali sebagai manusia baru, hasil dari pendadaran Ramadhan yang tak terlihat tapi terasa di dalam dada?
Di dunia yang sibuk memberi janji dan bantuan, sering kali kita lupa; kemampuan untuk berdiri sendiri adalah harta yang paling tak ternilai. Tidak menunggu, tidak menggantungkan harap pada yang tak pasti, tapi mencipta jalan sendiri, langkah demi langkah, dari kesadaran yang murni.
Dalam Maiyah Sulthon Penanggungan Pasuruan kali ini, kita akan menelusuri itu semua. Tema kita: “Manusia Generasi Baru (MGB)”. Bukan soal perut kenyang, bukan soal program, tapi soal jiwa yang mampu berdiri, jiwa yang mampu menahan, dan jiwa yang siap menatap dunia dengan mata baru.
Acara ini bukan sekadar mendengar kata, tapi merasakan, merenungi, dan membiarkan malam menjadi saksi. Saksi bagaimana manusia dapat mengubah lapar menjadi kekuatan, kesedihan menjadi pelajaran, dan puasa menjadi pendadaran menuju kemerdekaan batin.
Mari duduk bersama di OTES (Omah Tengah Sawah) Sumbersuko-Gempol, Sabtu, 28 Maret 2026 pukul 20:00 WIB. Biarkan malam itu menjadi ruang bagi kita untuk lahir kembali, bukan sebagai manusia lama, tapi sebagai Manusia Generasi Baru, yang ringan, tegar, dan bebas dari segala belenggu yang tak perlu. #Redaksi_SP








