Dunia sedang kocar kacir. Segala ruang informasi semakin getol memberitakan pergolakan: geopolitik, ekonomi, narasi pengetahuan, dan berbagai kepentingan lain.
Persilangan ruang dan waktu, nilai, kemerdekaan dan keterpenjaraan, bahkan persilangan diri kita sendiri — sering mendorong kita untuk memuaskan diri dengan ‘hanya’ mengamati kejadian yang besar dan jauh di kota seberang, negeri seberang, bahkan kalau mungkin lompat ke planet-planet. Namun, terkadang semua masalah di sana terlampau besar. Jika kebesaran itu terus kita pelototi saja secara membabi buta, jangan-jangan akan ada sesuatu yang terbunuh dalam diri kita sendiri.
Tak salah, dan memang perlu untuk kita monitoring kejadian-kejadian besar dalam peta global. Gelisah memikirkan hal semacam itu memang sakit-sakit enak, dan sah-sah saja. Kegelisahanlah yang juga mengembangkan peradaban manusia bukan? Kegelisahan mungkin juga hak segala bangsa.
Justru karena itulah, kabarnya, kita dianjurkan untuk senantiasa mampu menemukan kedudukan kita di persilangan ruang dan waktu.
Allah dalam Q.S Ar Ra’d ayat 11 berpesan:
… إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ….
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
Lantas, di tengah kondisi dunia yang tak berhenti perang, kita perlu dan harus berkaca. Sampai di mana kemampuan kita? Mampukah untuk sekedar bertahan, andai kondisi demikian itu terjadi di rumah kita. Lebih jauh, kita perlu memperbaiki diri, lingkungan rumah, dan memperbaiki semua yang perlu diperbaiki.
Maka setelah melewati edisi pertama yang menyaksikan mijil, kemudian menggali sebuah arkeologi dari masa silam pada edisi kedua, mari kita bersama-sama meneropong arah rumah di edisi ketiga. Saling bercerita tentang apa yang sedang terjadi, dan ngengen-engen akan kemana kita mengarahkan perjalanan nasib rumah kita.
Mari pulang sejenak, bercerita tentang rumah kita sendiri. Untuk kemudian berangkat ulang-alik lagi ke berbagai linimasa.[]








