Jika sebuah peradaban dibangun tanpa ada rasa bersalah di dalam diri setiap individu dari peradaban tersebut, apa jadinya jika sebuah Bangsa tidak punya rasa bersalah? Apa jadinya jika keluarga, kelompok dan setiap individunya tidak ada rasa bersalah? Apakah peradaban tersebut akan bertahan lebih lama? Apakah jika sebuah hubungan sosial maupun keluarga mampu bertahan jika rasa bersalah dihilangkan dan sama sekali tidak disadari atau menjadi kesadaran dalam kehidupan sehari-hari?
Jika seorang anak tidak memiliki rasa bersalah kepada orang tuanya, pun sebaliknya. Jika sebuah pertemanan tidak dibumbui rasa bersalah, jika suami tidak punya rasa bersalah kepada istri, pun sebaliknya? Apa yang kira-kira akan terjadi? Jika pemimpin dan yang dipimpin tidak punya rasa bersalah apakah akan bertumbuh lebih baik dan tepat sebuah kepemimpinan?
Apabila seseorang melakukan sebuah kesalahan, dan dia tidak punya kesadaran akan rasa bersalah, bagaimana seseorang tersebut menjalani kehidupan setelah ia membuat kesalahan. Mampukah ia terus-menerus bertahan dalam hidup yang mendustai dirinya sendiri? Berapa lama ia mampu? Apakah ada peradaban yang bertahan lama ketika para pelakunya melakukan sebuah kesalahan dan ia tidak sadar atau bahkan tidak mencari tahu apakah yang dilakukan salah, hingga belajar dan mempelajari kesalahan yang diperbuat?
Subtema Maiyahan bulan ini ketika digagas di Dapur TQ adalah Dusta mana yang Kamu nikmati? Mungkin ini adalah cerminan retoris dari surat Ar-Rahman yang ayatnya 31 kali diulang. Bisa dianggap sebagai Ayat yang tidak difirmankan (tugas dari Mbah Nun) atau juga boleh dianggap ayat yang berada atau bahkan bersembunyi di sela-sela ayat Al-Quran (yang tempo hari dibahas oleh Dulur-dulur Redaktur di Caknun.com) yang diulang-ulang sebanyak 31 kali di surat Ar-Rahman. Mungkin bisa disebut salah satu Tadabbur yang sering disampaikan Para Marja’ Maiyah. Dan menjadi PR bagi kita anak-cucu.
Jika boleh memaknai Ayat yang difirmankan dan tidak difirmankan: kita bukan hanya mendustakan nikmat, tetapi kadang malah menikmati dusta. Jika kita bisa mendustakan nikmat Tuhan, maka kita juga bisa sampai pada tahap menikmati dusta.
Parafrase atau pembalikan retoris dari ayat Al-Qur’an ini bisa menjadi pintu Sinau Bareng bagi dulur-dulur sebagai kritik sosial atau refleksi spiritual bagi kita.
Satu Dekade Tong-il Qoryah yang pada 17 Maret 2016 Ruang Tumbuh kita bersama difatihahi oleh Pak Harianto di Mocopat Syafa’at bersama Jamaah. Alhamdulillah sampai saat ini boleh dianggap istiqomah. Tidak tahu bagaimana ke depan. Karena Maiyah iku alas rek, siapapun boleh ikut menanam dan mengambil buahnya (begitu pesan Mbah Nun pada Januari 2017 di Incheon Airport). Rimba di depan ada dua pilihan, koncat masuk atau kita pelajari dulu bagaimana kondisi rimbanya. Atau ada pilihan lain dari dulur-dulur.
Masa depan adalah imajinasi (ghaib), masalalu adalah memori (bayang-bayang), hidup yang terjadi adalah hari ini (sekaligus segala sesuatu yang mengiringi kita).
Semua manusia pasti mati, tapi tidak semua manusia memberi arti.
Demikian Pak Nda berpesan. (Redaksi Tong-il Qoryah)








